Soe Hok Gie menjalani hidup sebagai penulis dan aktivis di tengah perubahan politik Indonesia pada dekade 1960-an. Keyakinan tentang keadilan berbenturan dengan peristiwa di sekelilingnya, sementara persahabatan serta hubungan pribadi ikut menghadapi tekanan. Ketika orang-orang mengambil jalan masing-masing, sikap yang sulit berkompromi dapat menempatkannya pada jarak dari lingkungan terdekat. Gie menghadirkan tokoh sejarah sebagai pusat sebuah drama yang menghubungkan gagasan, relasi, dan kecintaan pada alam. Untuk memahami fakta di luar cerita, penonton tetap perlu membedakan penggambaran dramatik dari arsip dan sumber sejarah. Prinsip yang dipertahankan tidak selalu membuat hubungannya dengan lingkungan menjadi mudah. Drama mempertemukan gagasan besar tentang perubahan dengan kebutuhan personal untuk berteman, mencintai, dan menemukan ruang yang memberi ketenangan.